Estetika Dalam Psikologi
Mengapa Pemikiran Mengenai Aestetika Penting bagi Perilaku?
Meskipun dalam sejarah studi kasus menunjukkan bahwa seseorang telah menunjukkan segi pemikiran artistik mereka sejak tercatat dalam sejarah. Kami mengetahui bahwa masyarakat pada saat itu telah memiiliki bentuk ekspresi artistik. Keindahan lukisan di dalam gua yang terdapat di Lascaux dan vallon-Pont-d’arc, Perancis usianya mencapai lebih 12.000 sampai dengan 20.000 tahun dan terdapat juga ekspresi artistik yang sesusianya, diantaranya musik, tarian, dan cerita. Bahkan bangsa Nomadic telah mengekspresikan karya pemikiran artistik mereka dalam barang-barang, seperti hiasan yang terdapat pada kain, tembikar, tulang, atau karya dari batu-batuan yang indah. Hiasan tersebut tidak dibuat tanpa alasan tertentu, seperti meningkatnya nilai suatu benda milik yang lainnya, akan tetapi lebih sederhana dalam pembuatan benda sehari-hari bagi pemiliknya. Melihat keindahan pada benda-benda akan meningkatkan pemikiran mengenai perilaku-meskipun hanya sementara. Buktinya, ketika masyarakat menjadi lebih mahir, minat seseorang untuk membawa pemikiran mengenai aestetika ke dalam kehidupannya akan meningkat. Bukti yang ada pada dunia saat ini, adanya peningkatan pembelanjaan untuk perhiasan, fashion, furniture model terbaru, modil, atau rumah ‘impian’ terbaru, semuanya bertujuan untuk memberi pemiliknya sebuah pemikiran mengenai keindahan. Meskipun beberapa barang biasanya didapatkan untuk mendapatkan status sosial yang mereka bawa, ada lagi yang didapat untuk memperoleh kesenangan aestetika yang mereka berikan.
Singkatnya, minat untuk merangsang pemikiran mengenai aestetika telah ada sejak awal era kehidupan manusia. Akan tetapi, dengan tujuan apa pemikiran tersebut dipakai?dari sudut pandang psikologi, itu dapat dipakai dengan berbagai tujuan. Dalam penelitian membuktikan bahwa sebuah daerah luas yang misterius dan belum mudah dimengerti secara reliabel, akan membuat seseorang tertarik (Franklin dan Kaplan, 1994).
Kesenian, photografi, lukisan dan objek lainnya yang dipajang oleh seseorang di rumahnya juga membuat seseorang ingat pada suatu tempat atau benda dan seseorang yang kita sukai. Seringkali, benda-benda tersebut dipakai sebagai perangsang untuk emosi yang positif juga dengan membantu kita mengingat memori menyenangkan dan pengalaman atau dengan membawa kita ke sana, meskipun hanya sebentar, dari hari ke hari telah disadari dapat mengkonsumsi kehidupan emosi kitaapanila kita tidak berhati-hati. Pemikiran mengenai aestetika dapat membantu kita mempelajari dunia di sekitar kita. Benda yang menarik, pola yang aneh, dan kombinasi warna yang tidak diduga dapat merangsang perasaan penasaran kita. Seperti objek yang ada di dunia kita, membuat kita tertarik dalam kehidupan dan menyediakan berbagai macam variasi dan rangsangan terbaru. Bahkan balita yang berumur satu minggu lebih akan menunjukkan pilihannya pada objek yang menarik dan menghindari yang lain di lingkungannya. Kesenian juga dapat digunakan untuk mengekspresikan emosi, institusi, dan maksud seseorang yang dirasakan sulit diartikan dalam kata-kata. Bahkan tembikar adalah karya seni yang menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan maksud yang melebihi kata-kata itu sendiri. Akhirnya, minat untuk mendapatkan pengalaman aestetika tampaknya akan meningkat dalam kehidupan masyarakat. Menghadi museum, gedung bioskop, pertunjukan musik dan tarian telah meningkat secara signifikan beberapa dekade ini.
Kesenian sebagai Jalan Perkembangan Personal
Kegunaan lain dari aestetika-meskipun sudah umum-adalah untuk melihat suatu kesenian sebagai sebuah langkah seseorang dalam meningkatkan perkembangan personal. Menurut pendekatan ini, kesenian seharusnya dapat menantang seseorang untuk melihat perkembangan dunia, yang lainnya, dan mereka sendiri dengan jalan yang baru dan merangsang seseorang untuk berpikir dan merasakannya berbeda. Pendangan bahwa kesenian dapat menunjukkan jalan ke arah visi yang baru masa depan didasarkan pada pergerakan avant-garde yang dimulai pada abad ke sembilan belas. Artis pada masa avant-garde secara bebas untuk menggugat par kaum borjuis yang mereka lihat sebagai penguasa, takut pada emosi, dan mencekik dalam sistem sosial yang menginginkan kenyamanan daripada kreatifitas (Hughes, 1980). Sementara dalam posisi ekstrem ini, kesenian dapat digunakan untuk merubah perasaan puas kita mengenai siapa diri kita.
Ahli filosofi dan psikologi dari Amerika, John Dewey (1934) mengusulkan fungsi yang mirip pada kesenian dalam bukunya Art as Experience. Dia meyakini bahwa apresiasi pembentukan suatu seni “ dalam [experience] yang dapat mengintensifkan pemikiran mengenai kehidupan yang serba cepat” (dalam Sarason, 1990, p.86). Menurut Dewey, pemikiran mengenai aestetika menjadi penting dalam perilaku karena dapat menciptakan sebuah vitalitas yang tinggi yang merupakan suatu perbaikan. Dengan kata lain, pemikiran aestetika akan membantu kita mengatasi masalah duniawi dan terlebih lagi mirip dengan mengintensifkan hubungan kita dengan pengalaman kita terdahulu. Perasaan mengenai aestetika meningkatkan kepedulian kita, memberikan semangat yang tinggi pada penghargaan dalam hal pengalaman manusia, dan membuat lebih lengkap “penetrasi dalam diri dan dunia pada benda dan kejadian” (sarason, 1990, p.86). dalam pandangan Dewey, kesenian dan sebuah pemikiran aestetika seharusnya tidak dipisahkan dari kehidupan sehari-hari kita. Pemikiran aestetika seharusnya tidak dibatasi secara sederhana pada pengalaman tersebut yang dianggap sebagai karya seni.
Seymour Sarason (1990) setuju dan mengusulkan bahwa kebutuhan ekspresi kesenian atau penghargaan tersebut adalah universal. Dia juga mengatakan bahwa ekspresi artistik akan selalu manahan masa kecil seseorang seperti seorang anak kecil yang menerima pesan “kesenian” adalah sesuatu yang dinilai, hanya yang “kreatif” yang dapat melakukannya dengan benar, dan bahwa salah satu pencarian dalam kesenian adalah untuk mendapat suatu pengakuan dari luar atau mendapatkan lebih dari kepuasan sendiri. Sarason percaya bahwa dalam tingkat kedewasaan, penekanan tersebut membutuhkan ekspresi artistik yang dapat menciptakan “mempercepat penyebab ketidakpuasan dalam kehidupan sehari-hari mereka” (p.5). Dengan kata lain, hilangnya penekanan dalam kebutuhan aestetika adalah sebuah pemikiran bahwa kehidupan membosankan dan tidak menarik. Ken dan Mary Gergen (2001) melaporkan keberhasilan program yang dirancang untuk menolong orang tua menyalakan lagi “rangsangan ekspresif, suka bermain, dan inovaitf, seperti pada perkembangan seorang anak, akan tetapi terlalu sering hilang atau tertahan pada saat ‘matang’” (p.2). Kabar baiknya adalah bahwa keajaiban kreativitas tidak akan lenyap selamanya.
Sebuah contoh yang kuat bahwa kesenian memiliki pengaruh pada kita terjadi pada saat kesenian mendorong batasan personal kita sehingga kesenian “dapat diterima.” Salah satu contoh yang yerkenal pada suatu perubahan yang tidak diterima dalam aestetika muncul dari pertujukan Stravinsky Le Sacre du printemps (“The Rite of Spring”) di paris pada tahun 1913. Para penonton sangat marah sehingga mereka membuat kerusuhan. Stravinsky membuat sebuah komposisi musik yang bertentangan dengan pemikiran penonton dalam hal aestetika yang secara normal membuat masyarakat Paris marah (Brockway dan Weinstock, 1958). Hal ini dapat menjadi stimulus yang mengingatkan kita pada kesenangan dan kekuatan kita atau sebagai salah satu hal yang mendorong kita untuk melihat pada batasan ujian yang diciptakan dalam hidup kita.
Kesenian Sebagai Pertolongan Pertama untuk Menyembuhkan dan Menningkatkan Intelejensi
Bandingkan contoh yang telah dibahas dalam diskusi sebelumnya pada beberapa penelitian baru di bidang musik. Baru-baru ini, the New York Academy of Sciences menerbitkan koleksi penelitian mengenai musik, bertema Biological Foundations of Music (Zatorre dan Peretz, 2001). Dalam buku ini, sebaik seperti yang lainnya, mengindikasikan bahwa musik dapat membantu pasien lebih lebih cepat setelah menjalani operasi bedah, dapat membantu pasien kanker dalam proses penyembuhan, dapat membantu pasien Alzheimer mengingat kejadian di masa lalu, dapat membantu seseorang menahan rasa sakit dengan lebih baik ketika merasakan sakit, dapat mendorong sistem imune, dan bahkan dapat membantu anak-anak meningkatkan nilai ujian. Beberapa bukti telah menemukan bahwa musik sebenarnya dapat meningkatkan kapasitas otak dan memperbesar ukurannya. Gottfried Schlaug dan kolega (Schlaug et al., 1995; Schlaug, 2001) membandingkan pemindaian otak dari tiga puluh musisi dan tig puluh non-musisi, dan menemukan bahwa corpus collosums musisi lebih besar ukurannya. Penelitian terbaru mengindikasikan bahwa selama mendengarkan musik telah banyak keuntungan yang didapatkan, kebanyakan keuntungan yang didapat adalah dari bermain musik. Penelitian telah menemukan bahwa anak-anak berumur antara 3 sampai 4 tahun yang belajar cara memainkan piano, mempunyai nilai 34 persen lebih tinggi dalam tes keahlian abstrak daripada anak-anak yang belajar dengan kemampuan komputer. Penelitian yang lain menunjukkan bahwa anak-anak dengan attention deficit hyperactivity disorder belajar untuk berkonsentrasi lebih baik dan mengatur gerakan mereka lebih baik setelah bermain game dengan irama musik (Zatorre dan Peretz, 2001).
Menemukan Keindahan di luar Kesenian
Seseorang dapat menghargai dan mengapresisikan keindahan dalam berbagai bentuk. Sebuah “keindahan” dalam teori khusus atau perhitungan yang unik atau hal yang luar biasa akan bergeser meskipun itu ilmuwan. Beberapa ilmuwan pernah mengatakan bahwa teori ilmiah harus dinilai sebagian pada “keistimewaannya” Susan Fitzpatrick (2001) menyarankan ilmuwan yang diikutinya untuk menjelaskan pada muridnya tentang “saat-saat anda menyadari keindahan dalam pekerjaan ilmuwan lainnya dan kau jatuh cinta” (p.4). Yang lainnya yang pernah terlibat dalam kompetisi atletik tingkat tinggi akan memberitahu anda bahwa salah satu hal yang paling menarik dalam dtletik adalah bahwa pada saat tertentu selama kompetisi, sifat lemah gemulai, ketepatan, atau bahkan keberanian seorang atlit adalah “keindahan”.
Keaslian Pemikiran Aestetika
Beberapa peneliti telah mengusulkan bahwa pada saat mereka tertarik bergabung dan mengelompok dengan lingkungannya maka akan terjadi perubahan secara revolusioner yang signifikan (Franklin dan Kaplan, 1994). Dalam pandangan ini, seperti evolusi pada manusia, hal seperti keanehan akan menjadi suatu keuntungan karena hal ini akan mendorong niat manusia untuk mengenal lingkungan mereka. itu akan menolong mereka mencari informasi yang baru dan memperluas wawasan kognitif mengenai lingkungan mereka. semakin mereka menganal dunia mereka, semakin baik mereka dapat beradaptasi. Teori evolusi yang lainnya mengenai aestetika muncul dari berbagai macam sumber. Psikolog dari Swiss Carl G. Jung mengusulkan bahwa respon emosional kita pada bentuk dan gambar tertentu akan berpengaruh pada pola respon bawaan yang kita sebut “collective unconcious”.
Meskipun terdapat beberapa bagian dari evolusi di dalam pemikiran mengenai aestetika, juga dapat dibenarkan bahwa penilaian mengenai keindahan dipelajari dari budaya menghargai dan periode sejarah dimana kita hidup. Kebutuhan dalam hal ekspresi artistik bisa jadi merupakan pembawaan, akan tetapi signifikansi psikologisnya merupakan tampilan singular dalam aestetika, dan hal ini lebih sering dipelajari. Bagaimanapun juga, penghargaan atau apresiasi yang baru pada kesenian bisa didapatkan oleh siapapun yang melakukannya. Untuk itulah kita dapat belajar untuk mengapresiasikan pengalaman aestetika yang dapat kita kenali menjadi tidak menarik.
Dapatkah Suatu Tragedi dan Kesedihan Menjadi Sesuatu Yang Indah?
Seseorang mengetahui bahwa kejadian tragis menjadi bagian dari hidupnya; mereka tahu bahwa dalam menghadapi salah satu aspek kemanusiaan tersebut mereka harus berhadapan dengan kesedihan bagaimanapun juga. Melalui media kesenian, seseorang mendapatkan pengalaman tragedi dan setidaknya mendapatkan tiga keuntungan. Yang pertama, perasaan empati untuk pembentukan karakter yang mengingatkan kita tentang rasa kemanusiaan dan bahkan dapat meningkatkan kualitas seperti rasa belas kasih dan kemurahan hati. Kedua, perasaan belas kasih ini dapat juga membentuk sebuah pemecahan masalah agar tragedi yang pernah terjadi tidak terulang lagi. Tragedi dapat membentuk suatu dedikasi untuk mencegah terjadinya tragedi di masa depan di dunia ini. Ketiga, pengalaman sedih dan tragis dalam kesenian membuat kita dapat merasakan emosi tanpa mengalami hal yang sebenarnya dalam peristiwa tersebut. Secara paradoks, kekuatan tragedi yang dapat kita rasakan tersebut adalah perasaan emosi negatif pada suasana yang tepat yang dapat mendorong kita mendapatkan pengalaman emosional seperti rasa kasihan, harapan, perasaan lega, empati, atau keberanian dalam menghadapi permasalahan.
BY: FAISAL RAMADHAN SYAH PUSADAN