SALAH
SATU CARA PENCEGAHAN PENGUNAAN NARKOBA PADA REMAJA
Saat ini penyebaran
narkoba sudah hampir merata dan sulit untuk di cegah dan obyek dari peredaran
Narkoba adalah remaja teru tama remaja belakanggan ini disinyalir pada banyak
remaja perempuan, Pada umumnya remaja memandang hidupnya ( Havighurst: 1952) 1) bingung dalam menentukan hubungan jenis
kelamin pada diri sendiri; 2) mencontoh dari lingkungan sosial pola perilaku
pria dan wanita; 3) memandang jiwa dan tubuh dengan sanggat rumit; 4) sikap yang
indepeden terhadap emosi dari orang tua dan orang dewasa pada umumnya; 5) mulai
berfikir tentang pertumbuhan ekonomi; 6) menyeleksi dan memperbaiki hubungan
dengan dunia luar yang dianggap sebaya; 7)
mempersiapkan diri untuk pernikahan dan membangun hubungan keluarga; 8)
mengembangkan skil intelektual dan kemampuan bersaing; 9) memperhatikan kembali
perilaku budaya; 10) mengelolah kembali
perilaku sosial.
Remaja dalah sebuah
fase dalam proses kehidupan yang harus dilewati yang meliputi proses pembentukan
fisik dan psikis, dimana kematangan-kematangan dan goncangan menyatu dalam diri
remaja, remaja perempuan di masa sekarang adalah target dari para penyalur
narkoba ( bandar narkoba), kenapa ?,
pola perilaku remaja perempuan saat ini hampir-hampir diluar kontrol baik orang
tua maupun para pendidik di sebabkan saat ini fokus yang dilakukan untuk
pencegahan pengunaan narkotika bagi remaja laki-laki (walaupun tidak
dikhususkan) modus baru mengunakan perempuan sebagai pengedar dan korban dari
peyalagunaan narkotika bahkan kurir –kuri penyaluran narkoba pun mengunakan
perempuan. Sebagai mana di kemukakan oleh
Magnusson, girls who begin
puberty early are more likely to become sexually active and use drugs ( Stattin, & Allen, 1985), and late puberty for boys increases the likelihood of
delinquency and school problems (Irwin & Millstein, 1986; Simmons, 1987).
Goncangan – goncangan psikologis lebih
komplit pada remaja, proses panjang pencarian jati diri dan kurangnya polah
hubungan komunikasi antara anak dan orang tua, anak dan guru, guru dan orang
tua dalam memantau perkembangan psikologis anak hampir tidak pernah terjadi
sehingga kontrol yang dilakukan hanya pada sikap anak saja sedangkan kondisi
psikologisnya tidak bisa di control
karena tidak paham akan masalah yang terdapat pada remaja. Efeknya
adalah, banyak remaja kembali melakuan (1) secretive because they fear ridicule;
(2) irritable because they resent interference from adults who do not
understand them; (3) boastful because they want to hide their insecurities; (4) depressed
because nothing seems to work
out according to their expectations; (5) rebellious' because parents and schools seem to have interfering
rules for everything; (6) defiant because this
behavior makes their parents leave them alone (behavior modification); and (7) devious because direct confrontation can be too painful (Bauman & Riche, 1986).
Apa yang harus di
lakukan ?, membangun pola hubugan
komunikasi yang aktif antara orang tua, pendidik dan anak. Walaupun hambatan ada hambatan yang muncul misalnya
kebanyakan orang tua dan pendidik cenrung menginterpensi anak ketimbang
memberikan ruang kepada anak untuk bebicara tentang persoalan mereka, peran
orang tua dan guru sebagai mitra anak dalam mengembangkan potensi diri anak
yang menjadi fokus perhatian, orang tua dan guru sudah harus membuka ruang dan
mendengarkan keluah-keluah anak¸ mulai menanyakan apa masalah yang mereka
hadapi, keterbukaan dalam berkomunikasi adalah salah satu cara untuk membangun
kepercayaan diri remaja, pemerintah memfasilitasi remaja untuk membuat grup
sebaya dan memberi penyuluhan terhadap bahaya Narkotika membuat mengajak remaja
aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial