Rabu, 11 Januari 2012

SALAH SATU CARA PENCEGAHAN PENGUNAAN NARKOBA PADA REMAJA


SALAH SATU CARA PENCEGAHAN PENGUNAAN NARKOBA PADA REMAJA

Saat ini penyebaran narkoba sudah hampir merata dan sulit untuk di cegah dan obyek dari peredaran Narkoba adalah remaja teru tama remaja belakanggan ini disinyalir pada banyak remaja perempuan, Pada umumnya remaja memandang hidupnya ( Havighurst: 1952)  1) bingung dalam menentukan hubungan jenis kelamin pada diri sendiri; 2) mencontoh dari lingkungan sosial pola perilaku pria dan wanita; 3) memandang jiwa dan tubuh dengan sanggat rumit; 4) sikap yang indepeden terhadap emosi dari orang tua dan orang dewasa pada umumnya; 5) mulai berfikir tentang pertumbuhan ekonomi; 6) menyeleksi dan memperbaiki hubungan dengan dunia luar yang dianggap sebaya; 7)  mempersiapkan diri untuk pernikahan dan membangun hubungan keluarga; 8) mengembangkan skil intelektual dan kemampuan bersaing; 9) memperhatikan kembali perilaku budaya; 10) mengelolah  kembali perilaku sosial.
Remaja dalah sebuah fase dalam proses kehidupan yang harus dilewati yang meliputi proses pembentukan fisik dan psikis, dimana kematangan-kematangan dan goncangan menyatu dalam diri remaja, remaja perempuan di masa sekarang adalah target dari para penyalur narkoba ( bandar narkoba), kenapa  ?, pola perilaku remaja perempuan saat ini hampir-hampir diluar kontrol baik orang tua maupun para pendidik di sebabkan saat ini fokus yang dilakukan untuk pencegahan pengunaan narkotika bagi remaja laki-laki (walaupun tidak dikhususkan) modus baru mengunakan perempuan sebagai pengedar dan korban dari peyalagunaan narkotika bahkan kurir –kuri penyaluran narkoba pun mengunakan perempuan. Sebagai mana di kemukakan oleh Magnusson, girls who begin puberty early are more likely to become sexually active and use drugs ( Stattin, & Allen, 1985), and late puberty for boys increases the likelihood of delinquency and school problems (Irwin & Millstein, 1986; Simmons, 1987).
Goncangan – goncangan psikologis lebih komplit pada remaja, proses panjang pencarian jati diri dan kurangnya polah hubungan komunikasi antara anak dan orang tua, anak dan guru, guru dan orang tua dalam memantau perkembangan psikologis anak hampir tidak pernah terjadi sehingga kontrol yang dilakukan hanya pada sikap anak saja sedangkan kondisi psikologisnya tidak bisa di control karena tidak paham akan masalah yang terdapat pada remaja. Efeknya adalah, banyak remaja kembali melakuan  (1) secretive be­cause they fear ridicule; (2) irritable because they resent interference from adults who do not understand them; (3) boastful because they want to hide their insecurities; (4) depressed because nothing seems to work out according to their expectations; (5) rebellious' because parents and schools seem to have interfering rules for everything; (6) defiant be­cause this behavior makes their parents leave them alone (behavior modification); and (7) devious because direct confrontation can be too painful (Bauman & Riche, 1986).

Apa yang harus di lakukan  ?, membangun pola hubugan komunikasi yang aktif antara orang tua, pendidik dan anak. Walaupun  hambatan ada hambatan yang muncul misalnya kebanyakan orang tua dan pendidik cenrung menginterpensi anak ketimbang memberikan ruang kepada anak untuk bebicara tentang persoalan mereka, peran orang tua dan guru sebagai mitra anak dalam mengembangkan potensi diri anak yang menjadi fokus perhatian, orang tua dan guru sudah harus membuka ruang dan mendengarkan keluah-keluah anak¸ mulai menanyakan apa masalah yang mereka hadapi, keterbukaan dalam berkomunikasi adalah salah satu cara untuk membangun kepercayaan diri remaja, pemerintah memfasilitasi remaja untuk membuat grup sebaya dan memberi penyuluhan terhadap bahaya Narkotika membuat mengajak remaja aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial

Tidak ada komentar:

Posting Komentar