Jumat, 17 April 2015

Psikologi pribumi ( Indigenous Psychology)



Perkembangan ilmu psikologi semakin pesat dari waktu- kewaktu, yang melahirkan bayak teory – teory psikologi yang di sumbangkan keberbagai disiplin ilmu terutama ilmu humaniora, selain itu perkembangan ilmu psikologi melahirkan berbagai mancam metode pendekatan penelitian untuk menganalisis struktur jiwa baik individu maupun masyarakat secara umum. Para ilmuan psikologi melihat perkembangnan masyarakat pada suatu wilayah hanya disandarkan pada teori-teori luar ( baratsentris) atau hasil penelitian dinilai berdasarkan standar teori barat tanpa memperhatikan faktor daerah setempat seperti perkembangan budaya pada masyarakat setempat, yang akhirnya jastifikasi tindak laku masyarakat dan individu sangant dikontrol oleh teori-teori barat, pertanyaan yang muncul kemudian apakah antar setiap kebudayaan diseluruh dunia akan sama dalam menilai suatu tingkah laku, apakah polah asuh otoriter selamanya menjadi pola asuh yang tidak baik dan hanya akan melahirkan embrio kekerasan dalam masyarakt, dimana teori luar tidak selamanya sepadan dengan contex dan conten pada masyarakt pada suatu wilayah sehingga untuk menilai masyarakat disuatu wilayah artinya kita membutuhkan pendekatan yang berasar dan belaku dalam masyakat tersbut.
Pengertian Indigenous Psychology adalah bidang psikologi yang berusaha memperluas batas dan substansi psikologi umum. Meskipun indigenous psychology maupun psikologi umum berusaha mengungkapkan fakta-fakta universal, tetapi titik awal penelitiannya berbeda. Psikologi umum berusaha menemukan prinsip-prinsip yang terkondekstual, mekanis, universal, dan berasumsi bahwa teori-teori psikologi saat ini bersifat universal (Koch & Leary, 1985). Akan tetapi indigenous psychology mempertanyakan universalitas teori-teori psikologi yang sudah ada dan upaya-upaya untuk menemukan psychologycal universals dalam konteks sosial, budaya, dan ekologis (Kim & Berry, 1993; Yang, 2000). Indigenous psychology mempresentasikan sebuah pendekatan yang konteks (keluarga, sosial, kultural, dan ekologis) isinya (yakni makna, nilai, dan keyakinan) secara eksplisit dimasukkan ke dalam desain penelitian.

Sepuluh karakteristik indigenous psychology adalah sebagai berikut:
Pertama, indigenous psychology menekankan psikologis dalam konteks keluarga, sosial, politik, filosofis, historis, religius, kultural, dan ekologis.
Kedua, berlawanan dengan miskonsepsi populer, indigenous psychology bukanlah studi tentang orang pribumi (native), kelompok etnikatau orang yang hidup di Negara-negara Dunia Ketiga. Penelitian-penelitian tentang indigenous telah sering dipersamakan dengan studi antropologis terhadap orang “eksotik” yang hidup di pedalaman. indigenous psychology dibutuhkan untuk semua kelompok kultural, pribumi, dan etnik, termasuk negara-negara yang sedang berkembang secara ekonomis.
Ketiga, indigenous tidak mengafirmasi atau menghalangi pemakaian metode tertentu. indigenous psychology adalah bagian dari tradisi ilmu pengetahuan yang salah satu aspek pentingnya pekerjaan ilmiah adalah menemukan metode-metode yang tepat untuk fenomena yang sedang diinvestigasi. Boulding (1980) mencatat bahwa, “dalam masyarakat ilmiah adakeragaman metode yang besar, dan salah satu masalah yang masih harus dihadapi ilmu pengetahuan adalah perkembangan metode yang tepat yang berkorespondensi dengan bidang-bidang epistemologis yang berbeda”.
Keempat, diasumsikan bahwa hanya orang pribumi atau insider (orang dalam) di sebuah budaya yang dapat memahami fenomena indigenous dan kultural dan bahwa seorang outsider (orang luar) hanya bisa memiliki pemahaman yang terbatas. Meskipun seseorang lahir dan dibesarkan di sebuah asyarakat tertentu bias memiliki insights tentang fenomena indigenous, tetapi hal ini mungkin tidak selalu terjadi.
Kelima, indigenous psychology berbeda dengan psikologi naïf Heider (1958). Heider (1958) mencatat bahwa di bidang perilaku interpersonal “the ordinary person has agreat and profound understanding of himself and other people which, though unformulated or vaguely conceived, enables him to interact in more or less adaptive ways”.
Keenam, konsep-konsep indigenous telah dianalisis sebagai contoh-contoh indigenous psychologies. Konsep philotimo di Yunani (orang yang “sopan, berbudi, dapat diandalkan, bangga”, Triandis, 1972), anasakti di India (“non-detachment”, Pande & Naidu, 1992), amae Jepang (“in-dulgent dependence”, Doi, 1973), Kapwa di Filiphina (“identitas yang sama dengan orang lain”, Enriquez, 1993), dan Jung di Korea (“kelekatan dan afeksi yang mendalam”, Choi, Kim, & Choi, 1993) telah dianalisis dan berbagai sindroma terkait budaya) telah diintroduksikan (Yap, 1974).
Ketujuh, banyak pakar indigenous psychology yang mencari buku-buku filsafat atau keagamaan untuk menjelaskan fenomena indigenous. Mereka menggunakan Philosophical treaties (seperti Confusian Classics) atau buku keagamaan (Al-Quran atau Wedha) sebagai penjelasan fenomena psikologis.
Kedelapan,indigenous psychology diidentifikasi sebagai bagian tradisi ilmu budaya (Kim dan Berry, 1993). Berbeda dengan ilmu fisika, biologi, orang lain, dan dirinya (Bandura, 1997; Kim & Berry, 1993). Oleh karena kita adalah agen perubahan, maka kita adalah subjek dan sekaligus objek penelitian.
Kesembilan,indigenous psychology menganjurkan pengaitan antara humanitas (misalnya, filsafat, sejarah, agama, dan kesastraan, yang difokuskan pada pengetahuan analitis, analisis empirik, dan verifikasi).
Kesepuluh, Enriquez (1993) mengidentifikasi dua titik awal penelitian dalam indigenous psychology: indigenization from without dan indigenization from whitin.Indigenization fro without melibatkan mengambil teori, konsep, dan metode psikologi yang sudah ada dan memodifikasi mereka agar cocok dengan konteks budaya lokalnya
Kim dan Berry (1993) memberikan pengertian indigenous psychology “the study of human behavior or mind that is native that is not transported from other regions, and that is designed for its people” (kajian ilmiah tentang perilaku atau pikiran manusia yang native (asli), yang tidak ditransportasikan dari wilayah lain, dan yang dirancang untuk masyarakatnya).