Perkembangan ilmu
psikologi semakin pesat dari waktu- kewaktu, yang melahirkan bayak teory –
teory psikologi yang di sumbangkan keberbagai disiplin ilmu terutama ilmu
humaniora, selain itu perkembangan ilmu psikologi melahirkan berbagai mancam
metode pendekatan penelitian untuk menganalisis struktur jiwa baik individu
maupun masyarakat secara umum. Para ilmuan psikologi melihat perkembangnan
masyarakat pada suatu wilayah hanya disandarkan pada teori-teori luar (
baratsentris) atau hasil penelitian dinilai berdasarkan standar teori barat
tanpa memperhatikan faktor daerah setempat seperti perkembangan budaya pada masyarakat
setempat, yang akhirnya jastifikasi tindak laku masyarakat dan individu sangant
dikontrol oleh teori-teori barat, pertanyaan yang muncul kemudian apakah antar
setiap kebudayaan diseluruh dunia akan sama dalam menilai suatu tingkah laku,
apakah polah asuh otoriter selamanya menjadi pola asuh yang tidak baik dan
hanya akan melahirkan embrio kekerasan dalam masyarakt, dimana teori luar tidak
selamanya sepadan dengan contex dan conten pada masyarakt pada suatu wilayah
sehingga untuk menilai masyarakat disuatu wilayah artinya kita membutuhkan
pendekatan yang berasar dan belaku dalam masyakat tersbut.
Pengertian Indigenous Psychology adalah bidang psikologi yang berusaha
memperluas batas dan substansi psikologi umum. Meskipun indigenous psychology
maupun psikologi umum berusaha mengungkapkan fakta-fakta universal, tetapi
titik awal penelitiannya berbeda. Psikologi umum berusaha menemukan
prinsip-prinsip yang terkondekstual, mekanis, universal, dan berasumsi bahwa
teori-teori psikologi saat ini bersifat universal (Koch & Leary, 1985).
Akan tetapi indigenous psychology mempertanyakan universalitas teori-teori
psikologi yang sudah ada dan upaya-upaya untuk menemukan psychologycal
universals dalam konteks sosial, budaya, dan ekologis (Kim & Berry, 1993;
Yang, 2000). Indigenous psychology mempresentasikan sebuah pendekatan yang
konteks (keluarga, sosial, kultural, dan ekologis) isinya (yakni makna, nilai,
dan keyakinan) secara eksplisit dimasukkan ke dalam desain penelitian.
Sepuluh karakteristik
indigenous psychology adalah sebagai berikut:
Pertama, indigenous psychology menekankan psikologis dalam konteks keluarga,
sosial, politik, filosofis, historis, religius, kultural, dan ekologis.
Kedua, berlawanan dengan miskonsepsi populer, indigenous psychology bukanlah
studi tentang orang pribumi (native), kelompok etnikatau orang yang hidup di
Negara-negara Dunia Ketiga. Penelitian-penelitian tentang indigenous telah
sering dipersamakan dengan studi antropologis terhadap orang “eksotik” yang
hidup di pedalaman. indigenous psychology dibutuhkan untuk semua kelompok
kultural, pribumi, dan etnik, termasuk negara-negara yang sedang berkembang
secara ekonomis.
Ketiga, indigenous tidak mengafirmasi atau menghalangi pemakaian metode
tertentu. indigenous psychology adalah bagian dari tradisi ilmu pengetahuan
yang salah satu aspek pentingnya pekerjaan ilmiah adalah menemukan
metode-metode yang tepat untuk fenomena yang sedang diinvestigasi. Boulding
(1980) mencatat bahwa, “dalam masyarakat ilmiah adakeragaman metode yang besar,
dan salah satu masalah yang masih harus dihadapi ilmu pengetahuan adalah
perkembangan metode yang tepat yang berkorespondensi dengan bidang-bidang
epistemologis yang berbeda”.
Keempat, diasumsikan bahwa hanya orang pribumi atau insider (orang dalam) di sebuah
budaya yang dapat memahami fenomena indigenous dan kultural dan bahwa seorang
outsider (orang luar) hanya bisa memiliki pemahaman yang terbatas. Meskipun
seseorang lahir dan dibesarkan di sebuah asyarakat tertentu bias memiliki
insights tentang fenomena indigenous, tetapi hal ini mungkin tidak selalu
terjadi.
Kelima, indigenous psychology berbeda dengan psikologi naïf Heider (1958). Heider
(1958) mencatat bahwa di bidang perilaku interpersonal “the ordinary person has
agreat and profound understanding of himself and other people which, though
unformulated or vaguely conceived, enables him to interact in more or less
adaptive ways”.
Keenam, konsep-konsep indigenous telah dianalisis sebagai contoh-contoh
indigenous psychologies. Konsep philotimo di Yunani (orang yang “sopan,
berbudi, dapat diandalkan, bangga”, Triandis, 1972), anasakti di India
(“non-detachment”, Pande & Naidu, 1992), amae Jepang (“in-dulgent
dependence”, Doi, 1973), Kapwa di Filiphina (“identitas yang sama dengan orang
lain”, Enriquez, 1993), dan Jung di Korea (“kelekatan dan afeksi yang
mendalam”, Choi, Kim, & Choi, 1993) telah dianalisis dan berbagai sindroma
terkait budaya) telah diintroduksikan (Yap, 1974).
Ketujuh, banyak pakar indigenous psychology yang mencari buku-buku filsafat atau
keagamaan untuk menjelaskan fenomena indigenous. Mereka menggunakan
Philosophical treaties (seperti Confusian Classics) atau buku keagamaan (Al-Qur‟an atau Wedha) sebagai penjelasan fenomena psikologis.
Kedelapan,indigenous psychology diidentifikasi sebagai bagian tradisi ilmu budaya
(Kim dan Berry, 1993). Berbeda dengan ilmu fisika, biologi, orang lain, dan
dirinya (Bandura, 1997; Kim & Berry, 1993). Oleh karena kita adalah agen
perubahan, maka kita adalah subjek dan sekaligus objek penelitian.
Kesembilan,indigenous psychology menganjurkan pengaitan antara humanitas (misalnya,
filsafat, sejarah, agama, dan kesastraan, yang difokuskan pada pengetahuan
analitis, analisis empirik, dan verifikasi).
Kesepuluh, Enriquez (1993) mengidentifikasi dua titik awal penelitian dalam
indigenous psychology: indigenization from without dan indigenization from
whitin.Indigenization fro without melibatkan mengambil teori, konsep, dan
metode psikologi yang sudah ada dan memodifikasi mereka agar cocok dengan
konteks budaya lokalnya
Kim dan Berry (1993) memberikan pengertian indigenous psychology “the study
of human behavior or mind that is native that is not transported from other
regions, and that is designed for its people” (kajian ilmiah tentang perilaku
atau pikiran manusia yang native (asli), yang tidak ditransportasikan dari
wilayah lain, dan yang dirancang untuk masyarakatnya).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar