Jumat, 17 April 2015

Psikologi pribumi ( Indigenous Psychology)



Perkembangan ilmu psikologi semakin pesat dari waktu- kewaktu, yang melahirkan bayak teory – teory psikologi yang di sumbangkan keberbagai disiplin ilmu terutama ilmu humaniora, selain itu perkembangan ilmu psikologi melahirkan berbagai mancam metode pendekatan penelitian untuk menganalisis struktur jiwa baik individu maupun masyarakat secara umum. Para ilmuan psikologi melihat perkembangnan masyarakat pada suatu wilayah hanya disandarkan pada teori-teori luar ( baratsentris) atau hasil penelitian dinilai berdasarkan standar teori barat tanpa memperhatikan faktor daerah setempat seperti perkembangan budaya pada masyarakat setempat, yang akhirnya jastifikasi tindak laku masyarakat dan individu sangant dikontrol oleh teori-teori barat, pertanyaan yang muncul kemudian apakah antar setiap kebudayaan diseluruh dunia akan sama dalam menilai suatu tingkah laku, apakah polah asuh otoriter selamanya menjadi pola asuh yang tidak baik dan hanya akan melahirkan embrio kekerasan dalam masyarakt, dimana teori luar tidak selamanya sepadan dengan contex dan conten pada masyarakt pada suatu wilayah sehingga untuk menilai masyarakat disuatu wilayah artinya kita membutuhkan pendekatan yang berasar dan belaku dalam masyakat tersbut.
Pengertian Indigenous Psychology adalah bidang psikologi yang berusaha memperluas batas dan substansi psikologi umum. Meskipun indigenous psychology maupun psikologi umum berusaha mengungkapkan fakta-fakta universal, tetapi titik awal penelitiannya berbeda. Psikologi umum berusaha menemukan prinsip-prinsip yang terkondekstual, mekanis, universal, dan berasumsi bahwa teori-teori psikologi saat ini bersifat universal (Koch & Leary, 1985). Akan tetapi indigenous psychology mempertanyakan universalitas teori-teori psikologi yang sudah ada dan upaya-upaya untuk menemukan psychologycal universals dalam konteks sosial, budaya, dan ekologis (Kim & Berry, 1993; Yang, 2000). Indigenous psychology mempresentasikan sebuah pendekatan yang konteks (keluarga, sosial, kultural, dan ekologis) isinya (yakni makna, nilai, dan keyakinan) secara eksplisit dimasukkan ke dalam desain penelitian.

Sepuluh karakteristik indigenous psychology adalah sebagai berikut:
Pertama, indigenous psychology menekankan psikologis dalam konteks keluarga, sosial, politik, filosofis, historis, religius, kultural, dan ekologis.
Kedua, berlawanan dengan miskonsepsi populer, indigenous psychology bukanlah studi tentang orang pribumi (native), kelompok etnikatau orang yang hidup di Negara-negara Dunia Ketiga. Penelitian-penelitian tentang indigenous telah sering dipersamakan dengan studi antropologis terhadap orang “eksotik” yang hidup di pedalaman. indigenous psychology dibutuhkan untuk semua kelompok kultural, pribumi, dan etnik, termasuk negara-negara yang sedang berkembang secara ekonomis.
Ketiga, indigenous tidak mengafirmasi atau menghalangi pemakaian metode tertentu. indigenous psychology adalah bagian dari tradisi ilmu pengetahuan yang salah satu aspek pentingnya pekerjaan ilmiah adalah menemukan metode-metode yang tepat untuk fenomena yang sedang diinvestigasi. Boulding (1980) mencatat bahwa, “dalam masyarakat ilmiah adakeragaman metode yang besar, dan salah satu masalah yang masih harus dihadapi ilmu pengetahuan adalah perkembangan metode yang tepat yang berkorespondensi dengan bidang-bidang epistemologis yang berbeda”.
Keempat, diasumsikan bahwa hanya orang pribumi atau insider (orang dalam) di sebuah budaya yang dapat memahami fenomena indigenous dan kultural dan bahwa seorang outsider (orang luar) hanya bisa memiliki pemahaman yang terbatas. Meskipun seseorang lahir dan dibesarkan di sebuah asyarakat tertentu bias memiliki insights tentang fenomena indigenous, tetapi hal ini mungkin tidak selalu terjadi.
Kelima, indigenous psychology berbeda dengan psikologi naïf Heider (1958). Heider (1958) mencatat bahwa di bidang perilaku interpersonal “the ordinary person has agreat and profound understanding of himself and other people which, though unformulated or vaguely conceived, enables him to interact in more or less adaptive ways”.
Keenam, konsep-konsep indigenous telah dianalisis sebagai contoh-contoh indigenous psychologies. Konsep philotimo di Yunani (orang yang “sopan, berbudi, dapat diandalkan, bangga”, Triandis, 1972), anasakti di India (“non-detachment”, Pande & Naidu, 1992), amae Jepang (“in-dulgent dependence”, Doi, 1973), Kapwa di Filiphina (“identitas yang sama dengan orang lain”, Enriquez, 1993), dan Jung di Korea (“kelekatan dan afeksi yang mendalam”, Choi, Kim, & Choi, 1993) telah dianalisis dan berbagai sindroma terkait budaya) telah diintroduksikan (Yap, 1974).
Ketujuh, banyak pakar indigenous psychology yang mencari buku-buku filsafat atau keagamaan untuk menjelaskan fenomena indigenous. Mereka menggunakan Philosophical treaties (seperti Confusian Classics) atau buku keagamaan (Al-Quran atau Wedha) sebagai penjelasan fenomena psikologis.
Kedelapan,indigenous psychology diidentifikasi sebagai bagian tradisi ilmu budaya (Kim dan Berry, 1993). Berbeda dengan ilmu fisika, biologi, orang lain, dan dirinya (Bandura, 1997; Kim & Berry, 1993). Oleh karena kita adalah agen perubahan, maka kita adalah subjek dan sekaligus objek penelitian.
Kesembilan,indigenous psychology menganjurkan pengaitan antara humanitas (misalnya, filsafat, sejarah, agama, dan kesastraan, yang difokuskan pada pengetahuan analitis, analisis empirik, dan verifikasi).
Kesepuluh, Enriquez (1993) mengidentifikasi dua titik awal penelitian dalam indigenous psychology: indigenization from without dan indigenization from whitin.Indigenization fro without melibatkan mengambil teori, konsep, dan metode psikologi yang sudah ada dan memodifikasi mereka agar cocok dengan konteks budaya lokalnya
Kim dan Berry (1993) memberikan pengertian indigenous psychology “the study of human behavior or mind that is native that is not transported from other regions, and that is designed for its people” (kajian ilmiah tentang perilaku atau pikiran manusia yang native (asli), yang tidak ditransportasikan dari wilayah lain, dan yang dirancang untuk masyarakatnya).






Minggu, 23 Desember 2012

Mereview paper

Mereview paper
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada September 24, 2008
Catatan dari kuliah Research Methodology, yg saya sampaikan di Jur.IT-SGU, 23 September 2008
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat melakukan literature review, adalah sbb.
  1. Jangan pernah percaya bahwa sebuah paper itu perfect. Nasehat yang sering diberikan: terhadap data yang disajikan, mungkin bisa saja 70% anda percaya, tetapi untuk bagian diskusinya, jangan lebih dari 50%.
  2. Bacalah bagian introduction, dan coba cari informasi berikut:
    1. Objective dari riset yang dilakukan
    2. Mengapa author memilih problem itu ? Sisi manakah yang menarik dan signifikan ?
    3. Dimana letak originality penelitian tsb. ? Apakah penelitian itu mengemukakan satu pendekatan baru terhadap masalah yang sudah ada, ataukah memakai metode yang sudah ada untuk memecahkan satu aplikasi baru yang menarik, ataukah baik pendekatan maupun aplikasinya semua baru ?
    4. Masalah apakah yang ingin dijawab oleh author ? (problem formulation)
  3. Bacalah bagian diskusi, dan coba cari informasi berikut:
    1. Solusi apakah yang dipakai oleh author untuk menjawab pertanyaan riset di atas ?
    2. Bagaimana author mendesain eksperimen untuk menguji sistem yang dibuat ?
    3. Apakah eksperimen itu berhasil ?
    4. Apakah ada contoh eksperimen yang tidak berhasil ? (mestinya selalu ada, karena tidak ada penelitian yang sempurna). Bagaimana author membahas penyebabnya ? Ataukah penyebab itu tidak dibahas sama sekali ?
  4. Bacalah bagian conclusion dan coba cari informasi berikut
    1. Apakah kesimpulan itu menjawab semua pertanyaan yang diajukan pada bagian introduction ?
    2. Dimanakah letak kontribusi terbesar dari penelitian itu ?
    3. Apakah ada masalah penelitian yang masih belum diselesaikan ?
  5. Apakah anda memiliki ide lain untuk memecahkan masalah yang sama ?
  6. Dimanakah kelemahan dari paper yang anda baca ? (isi, penyajian, dsb)
  7. Bacalah bagian referensi dan coba cari informasi berikut
    1. apakah referensi yang dipakai uptodate (tahun-tahun terakhir) ? Ataukah paper yang dijadikan referensi sudah terlalu lama ?
    2. Sekiranya anda tertarik untuk mengerjakan riset pada tema yang berdekatan, catatlah paper atau buku penting yang tercantum pada bagian referensi paper tsb
Disadur dari
https://asnugroho.wordpress.com/2008/09/24/mereview-paper-2/

Kamis, 14 Juni 2012

Psikologi pendidikan suatu tream

pada dasarnya psikologi pendidikan memiliki 2 tream  1 ) memfokuskan pada peran pendidik daam meningkatkan pengetahuan dan ketermapilan siswa dan yang ke 2) tentang bagaimana belajar dan bagai mana menigkatkan kreatifitas peserta didik seta potensinya.

dalam kajian psikologi lebih lanjut bagai mana memodifikasi proses mengajar bial lebih efektif dimana seorang guru mampu menggabungkan antara peningkatkan kemapuan siswa dan ketermpilan siswa sekaligus seorang guru harus beajar bagai mana meningkatkan kreatifitas peserta didik dan dengan sendirinya sang guru harus menigkatkan cara mengajarnya, baik metode atau pun materia yang di pesiapkan untuk peserta didik. isu kontenpore tentang pendidikan saat ini adaah pendidikan krakter, dimana pendidikan karakter menjadi salah satu produk baru mentri pendidika indonesia. yang jadi persoana yang muncul kemudian apakah para guru sudah siap menerapkan untuk dirinya sendiri sebelum mengklong kepada siswanya, dimana guru akan menjadi roll yang akan di ikuti siswa

teringgat cerita teman saya seorang guru BK di suatu kab di Sulawesi selatan,yang dia becerita, dia pernah menegur siswanya yang bajunya keluar dari ceana sehingga terihat tidak rapi, tapi dengan enteng siswa itu menjawab bahwa sanya bapak A pun bajnya di luar, kami kan hanya menconto. ini lah salah satu poblem yang bakal kita temui dilpangan ketiga mau menerapkan pendidikan karakter, dimana di sisilain seseorang mau di hormati tapi di sisilain dia tidak mampu menghormati orang lain bahkan yang lebih mudah. mengajar kejujuran tetapi kita tidak pernah jujur dengan apa yang ada dihapan kita. yang harus di perhatikan mengajar bukan hanya sekerad menguasai materi tetapi segala totalitas dari apa yang kita tampilkan (actitutnya). mengajar bukan hanya mampu mempesona dalam kelas dengan apa yang kita miliki dengan pengetahuan yang kita miliki tetapi mengajara adalah totalitas penilaian yang dilakukan siswa pada guru.

mengajar adalah suatu komponen kreatifitas seorang guru perpaduan antara pengetahuan dan sikap, sikap yang kadang saya artikan sebagai ahklak dalam kehidupan sehari-hari atau cara- seseorang terhadap orang lain yang menjadi nilai yang baik untuk di ikuti. karena seorang pendididik adalah orang yang mengtahui dan menteranformasikan pengetahunnya pada peserta didik, sehingga akan sanggat berbeda antara orang yang megetahui dan tidak mengetahui. sanggat berbeda antara orang yang berlilum dan tidak berilmu, dimana orang yang berilmu pasti megedepankan pengetahuannya yang akan tertampak pada penampilannya.

hal lain yang harus diperhatikan oleh seorang guru adalah cara belajar siswa dan karakter siswa dalam menghadapi setiap persoalan dalam kelas yang dimana semua siswa tidak akan pernah sama perbedaan cara belajar sebanyak jumlah sidik jari kita, jadi saatnya pelajaran di pusatkan kepada siswa sebagai subujek dalam membelajaran bukan sebagai obyek guru dalam menteransfermasi pengetahuan,mengajarkan siswa tentang hal-hal yang bermakna dan  menarik makna dari apa yang telah terjadi. sehingga kita harus mampu memahami peserta didik satu pertastu di mana siswa harus di dorong mempunyai substansial hand dalam mengarahkan diri mereka, memilih apa yang mereka pelajari saipi tahap dimana siswa akan belajar dan bagai mmana cara dia belajar dan bukan menjadikan siswa yang pasif ( datang duduk diam, bego ), seorang pendidik harus mampu mendorong siswa satu persatu mencapai tujuan yang disepakati siswa dan guru, sehingga belajar pun menjadi aktifitas yang menyenangkan bagi siswa.

ada hal lain yang harus di lakukan seorang guru ya itu menghilangkan prasanga siswa baik atara sesama mereka maupun atar siswa dan guru serta guru kepada siswa, perasangka adalah sala satu penghambat suksesnya pembelajaran dalam kelas seperti penelitian yang di lakukandi kananda pada pembeajaran bahasa inggris LSE yang dilakukan mengunakan metode yang sanggat sistematis dimana siswa yang diajar adalah siswa dari berbagai latar belakan kebudayaan, dalam penelitian ini di temukan bahwasanya perbedaaan budaya akan menciptakan perasangka siswa bahkan pada guru dilaporkan dalam penelitian ini siswa arab dan dari timur tengah tidak senag juka diajar oleh guru yang wanita, penulis pun melakukan penelitian sederhana tentang prasanga siswa pada guru di sebuah sma di jawa tengah, untuk menghilankan prasangka siswa pada guru maka seorang guru harus mampu komunikatif dalam mengajar siswa, dan mengkomunikasikan semau a hal yang di dapat dala kelas termasuk eksalahan siswa, dan sebaiknya siswa di hukum tidak dihadapan teman sekelasnya karena akan mencptakan rasa mau.

nuansa humoris pun di butuhkan siswa ketika proses belajar mengajar agar siswa bisa tetap fokus pada apa yang di ajarkan kepadanya sehingga tercipta keseimbanggan atara otak kiri dan otak kanan.

kesimpulan dari tulisan ini disarankan kepada guru untuk mengunakan banyak metode dan banyak pendekatan pada siswa tetapi tetap menerapkan sikap saling menghormati antara guru dan siswa, menjadi guru yang disenagi tidak harus melepas wibawa seorang guru. tegas tidak harus keras, karena tujuan pendidikan adalah teransfermasi pengetahuan yang ada pada guru dan yang ada pada siswa guna menilai suatu hal ya dari sudut pandang yang berdeda dengan pendekatan yang berbeda pual. guru tidak hanya memperhatikan perkembagan otak kiri saja tetapi juga otak kanan menjadi fokus juga sehingga terjadi keseimbangan atara pemikiran logis dan perasaan siswa.

refrensi
materi kuliah psikologi pendidikan anjutan prof Asmadi Alsa
stuart janie (2005) Prejudice in the ESL Classroom,Tesl canada journal, Vol 23,No1 
Laporan penelitian prasanga siswa pada guru untuk mata kuliah metode penelitan kualitatif

Minggu, 10 Juni 2012

Hutanku Digunduli

ini cerita tentang seorang kawan pada ku tentang hutan di desanya di sebuah desa di sulawesi tenggara, sebut saya nama dia betmen ( ini sial), adalah seorang mahasiswa teman diskusi ku tentang berbagai hal mulai dari agama, politik, psikologi,ekonomi kerakyatan dan tentang gerakan serta budaya dan banyak lagi yang biasa kami diskusikan. ini salah satuh cerida dia

di kampun dia masyarakatnya agak sedikit kurang tersentuh dengan budaya belajar, yah mungkin di sebabkan banyak faktor penyababnya, masalah yang membuat beliau resah saat ini adalah soal pengundulan hutan, atau penebangan hutan secara ilegal atau ilegal loging, atau pemerkosaan hutan atau banyak nama lain yang bisa kita sebutkan berkaitan tentang persoalan ini.

hutan sebagai kawasan konserfasi atau hutan yang dilindungi karena masih banyak kayu yang hanya bisa hidup didararan sulawesi yaitu eboni dala bahasa setempat disebut kayu hitam ( heheh basa penulis) atau jenis kayu lain yang di tebang tanpa surat dan tidak diremajakan lagi yang akan berefek kepada anak - anak dan cucu-cucu masayarakat sedunia, hutan adalah paruh-paruh dunia akan di gunduli dan di perkosa habis demi keuntunggan segelintir orang yang tidak bukan adalah suatu kejahatan yang terstruktur. yang masih membingungkan saya sampai hari ni  hal itu masih berlangsung dan belum ada penaganan yang lebih serius oleh pemerintah padahal ini sanggat berbahaya. di seluruh dunia orang berkampanye tentang dunia hijau kok di kapung saya penebagan hutan sampai ekspor hasilnya pun mashi berlangsung ada apa dengan negeriku ini

betmen kemudian masih bercerita tentang desanya, pelaku penebang hutan adalah orang orang sekitar desanya, penadannya juga orang orang sekirat kampunya bahkan sudah ada jatah masing-masing dan ini hanya mengayakan segelintir orang saja, warga sengaja di manjakan dengan alkohol dan pendidikan di desa temansaya ini pun menurut saya masih sangat jauh tertinggal ketimbang desa dasa lain di indonesia, masih menurut betmen yang bercita-cita membuat skolah rakyat untuk memangkas apa yang pernah dia rasakan sebelum dia melanjutkan sudy nya. citra buram yang hasil analisas saya sengaja di bentuk agar masyaraka tidak megetahui apa yang mereka lakukan dan apa efeknya terhadap mereka (kampanya tentang lingkunga) yang harus dilakukan pemerintah pun tidak ada ini lah efek bagai mana pemerintah atau para politikus hanya sibuk megurusi perut dan bawa pertu tidak pernah mengurusi rakyat dan sekitarnya, ini mungki juga efek kecedasan mahasiswa yang suka demo tentang negara tapi tidak pernah berdemo tentang hutan,

sempat terlintas di behah saya kasus banyir bandang di papua beberapa tahun yang lalu yang mungkin akan terjadi juga dikampung kawan saya ( bukan mendoakan tapi kalau terus berlangsung penebagan hutan tersebtu maka kejadian seperti ini tidak bisa dihindari). tidak ada jalan lain selain memberikan pendidikan tentang kelestarian alam pada masyarakat sejak PAUD sampai Mahasiswa. mungkin ini lah cara yang harus dilakukan memberikan kesadaran pada masyarakat tentang lingkungan, mengurip kisah di filem kertun  avatar dalam cpter manusia rawa, sesunguhnya seluruh pohon yang ada di dunia ini saling mengikat pada satu akar dan saling mengkomunikasian nasib mereka, ingat maranya alam sanggat berbeda dengan murka tuhan, karena segala sesuatu itu memiliki jiwa masing-masing dan akan memberontak sama seperti semut yang di injak. maka saatnya membuat mereka kembali hidup.

saya hanya bisa bersaran sama kawan saya si betmen " kawan ku tugasmu sanggat banyak, mulai dari menyadarkan masyarakat sampai menyadarkan para pengusaha kayu dan juga pemerintah. perjuangan mu baru dimulai dan tidak akan pernah berhenti, jadilah orang yang dimuliakan karena ingin merumbah sesuatu yang salah walaupun resikonya sangat berat, inggat kawanku dunia tidak akan bertutup mata tentnag perjuaganmu" tulisan ini ku dedikasikan untuk mu BATmen

Saat ini hututanmu yang dijarah
besok Anoamu yang dipunahkan
lusa lautmu akan dikuras
mingunya alam mu akan meminta kembali haknya yang kau regut

harus kau kembali mengulung kerak lengan tagan mu
saatnya kau menyipan badimu dan menggantinya dengan penamu
saatnya kau yang dulunya di kucilkan mulai mengucilkan
ajarkan pada mereka bagai mana merawat bumi mu
bagai mana merawat alammu, bagai mana merawat hutanmu
bagai mana merawat dirimu dan bagai mana merawat hatimu


(kaka.s.psi)

Pendidikan dulu dan sekarang


dalam bahasa inggris kita mengenal aturan kata yang di gunakan kita biasa gunakan untuk masa lampau saat yang berlangsung dan akan datang, dalam dunia pendidikan jaga kita memiliki priode perkembangan proses pengelolaan sekolah yang erat hubungannya antara lingkungan sekoloh, guru dan siswa yang saling berinteraksi membangun suatu komuditas guna memajukan pengetahuan,
setiap model pendidikan tergantung dengan paradikma yang dipahami dalam setiap negara, dalam buku idologi-idologi pendidikan dikemukakan banya teory pada saat ini para dikma klasik yang di gunakan dalam pendidikan disekolah-sekolah adalah paradikma behavior, para dikma yang lain adalah paradikma kognitif ala piaget, dan humanistik ala maslow, dan dari teori teori ini menlahirkan model-model pendidikan gaya baru yang berbasi komperatif dan inofatif.
untuk memajukan pendidikan di indonesia maka perlu kiranya kira merubah paradikma tau konstrk pemikiran kita pada pemikiran yang lebih efektif dan mendidik dengan lembut berdasakan kemampuan siswa sehingga siswa dalam kelas tidak saling berkopetisi tetapi saling mengisi satu dengan lainnya berikut ini model pendidikan lama dan baru


Paradigma Lama dan Baru Dalam Pendidikan
Prof. Dr. Asmadi Alsa SU

No
Komponen
Paradigm lama
Paradigm baru
1
PengetahuanTransfemasi guru ke siswaDekonstruksi bersama oleh siswa dan guru
2
SiswaPasifAktif menemukan, mengkonstruksi dan mentransformasi
3
Metode belajarMenghafal/mengigatKeterkaitan ( berdasarkan kemampuan siswa)
4
Tujuan guru/sekolahMengklasifikasi siswa berdasarkan  prestasiMengembangkan kopetensi dan talenta
5
Tujaun pengembangan siswaSiswa berjuang menemui keriteria dan memperoleh ijazaSiswa focus pada belajar jangka panjang yang kontinyu
6
HubunganHubungan impersonal diantara siswa guru dan siswaHubungan personal antara siswa dan antara guru dan siswa ( tetap ada etika )
7
Konteks suasanaKompotitif, individualistic, konformitas keseragaman kulturKomperatif perbedaana harga diri personal, perbedaan kultur dan kerbersamaan
8
KekuasaanSekolah, guru memegang otoritas dan controlSiswa di berdayakan
9
PenilaianPenilaian acuan berdasarkan norma referenced (PAN) bentuk ujian pilihan gandaPenilaian bedasarkan cvikrta referenced PAP bentuk ujian mengunakan portofolio
10
Pengunaan TeknologiDrill dan perakterk, buku teksProblem solving, komunikasi kaloborasi akses informasi dan ekspresi
11
Asumsi mengajarSiapa pun bisa mengajarMengajar adalah rumit dan memerlakukan pendidikan dan pelatihan
 dengan membaca dan melihat perbedaan yang sanggat siknifikan atara dua pola pembelajaran yang dulu dan sekarang, anak-anak moderen mengunakan pendekatan yang lebih moderen yang berbeda dengan anak anak jaman dulu yang diajarkan menghafal anak jaman sekarang diajarkan untuk menemukan hal-hal baru yang dalam kehidupannya dan bagai mana dia memaknai dan mampu mengkomunikasiaknya kepada teman, guru, orang tua bahkan masyarakat yang lebih terbuka.
perkembangan dunia pendidikanharus ditopang dengan kesadaran guru untuk terus belajar dan mentransformasi dirinya dengan menambah informasi gaya mengajar cara megajar dan segala sesuatuna yang berkatan dengan pengembangan dirinya ini lah dunia yang memajukan manusia nan
sesungguhnya belajar adalah lifelong education, pendidikan harus bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda, dengan hetrogenitas yang dimiliki
Gambar

Faisal ramadan syah pusadan S.psi

(mahasiswa pasca sarjana jurusan sain psikologi ums)

Rabu, 23 Mei 2012

FGD Industri


FGD (Focus Group Discussion)
Manfaat dan Bagaimana Melaksanakannya…??
Bagi beberapa perusahaan FGD biasanya dijadikan salah satu tahap dalam proses psikotes yang juga menentukan apakah peserta tes berhak mengikuti tahap berikutnya atau tidak. Namun penerapan FGD tidak hanya sebatas di itu. Sebenarnya FGD sendiri konsepnya hampir sama dengan wawancara yang bertujuan untuk mengetahui dinamika atau kecenderungan personaliti seseorang. Hanya memang dalam FGD peserta ditempatkan dalam sebuah kelompok sehingga selain bisa dilihat kecenderungan personalnya juga akan terlihat bagaimana ia berhubungan dengan lingkungan diluar dirinya dan menghadapi situasi yang berada di luar prediksinya. Nilai praktis dan ekonomis yang dimiliki FGD memang membuatnya dapat menjadi salah satu pilihan bagi perusahaan untuk tidak hanya menempatkan FGD sebagai salah satu tahap dalam proses psikotes. FGD juga bisa diterapkan ketika wawancara awal untuk mengetahui gambaran umum kandidat, apakah kandidat memiliki gambaran kepribadian yang mendekati kriteria perusahaan sehingga bisa mengikuti tahap berikutnya yaitu psikotes ataukah gambaran kandidat ternyata kurang sesuai dengan kriteria perusahaan sehingga tidak perlu psikotes. Apakah FGD dijadikan salah satu tahap dalm psikotes ataukah dijadikan seleksi awal sebelum melakukan psikotes jelas tergantung dari kebutuhan perusahaan. Pilihan-pilihan ini sifatnya fleksibel namun yang jelas apa yang dihasilkan dalam FGD jelas belum bisa dijadikan dasar dalam mengambil keputusan atas kandidat. Hasil FGD hanya berupa hasil observasi yang akan mendukung hasil psikotes. Namun dari FGD tersebut pemandu dapat mengetahui gambaran umum kandidatnya.
Apa Manfaat dari FGD sebagai pengganti wawancara awal…??
1.      Praktis dan ekomonis. Penggunaaan FGD memungkinkan perusahaan melakukan satu kegiatan dengan beberapa orang sekaligus. Seperti yang sudah disampaikan pada artikel sebelumnya, dalam FGD normalnya setiap kelompok terdiri dari 4 – 7 orang dan rata-rata satu kelompok waktunya adalah 20 – 30 menit sehingga FGD akan menghemat waktu yang harus diluangkan pemandu.
2.      FGD mengungkap beberapa aspek sekaligus seperti pemahaman atas permasalahan di sekitarnya, logika berfikir, pengambilan keputusan, inisiatif, ketrampilan komunikasi, kepercayaan diri dan masih banyak hal lainnya.
3.      FGD lebih bersifat natural bila dibandingkan dengan wawancara, namun justru dari situ dapat dilihat antisipasi peserta dalam menyelesaikan permasalahan atau kasus yang diberikan. Selain itu bisa dilihat juga bagaimana ketahanannya dalam berhadapan dengan situasi yang underpressure. Tidak seperti wawancara yang pressurenya dari pertanyaan interviewernya, pressure dari FGD selain berupa kasus itu sendiri bisa dari anggota kelompok lainnya (ketika si peserta membandingkan kemampuannya dengan kemampuan anggota kelompok yang lainnya termasuk juga bagaimana pengendalian dirinya).
Kasus seperti apa yang biasa digunakan dalam FGD…??   
Umumnya kasus yang digunakan dalam FGD adalah kasus-kasus yang terkait dengan bidang pekerjaan kandidat atau kasus-kasus yang menuntut penyelesaian tidak hanya secara logis namun juga mempertimbangkan kata hati. Namun kasus yang diberikan dalam FGD seyogyanya disesuaikan dengan aspek yang akan diungkap dari pekerjaan kandidat nantinya. Tabel di bawah ini diharapkan dapat membantu untuk lebih memahami bagaimana menyesuaikan kasus dnegan level atau kompleksitas pekerjaan kandidat.
Level Aspek yang ingin diungkap Orientasi kasus
Staff Pada level ini aspek yang biasanya lebih diperhatikan adalah kematangan sosial emosional, potensi kerjasama, pengendalian diri, dan stabilitas emosi Kasus yang diberikan dapat berupa kasus mengenai permasalahan kongkrit yang terjadi di lingkup pekerjaan atau kasus yang sebenarnya tidak menitik beratkan pada keakuratan penyelesaian namun lebih kepada proses dalam mencapai penyelesaian.
Supervisory Pada level ini biasanya selain memperhatikan aspek-aspek diatas juga memperhatikan aspek kepemimpinan seperti pengambilan keputusan, inisiatif, kemampuan persuasi, dan pola pengembangan tim Kasus yang diberikan dapat berupa kasus mengenai suatu permasalahan yang menuntut penyelesaian yang melibatkan beberapa faktor yang terlibat didalamnya sehingga pola kepemimpinan, pola pikir dan prioritas dalam pengambilan keputusan bisa terlihat di sini.
Managerial Pada level ini aspek yang diungkap lebih kompleks sehingga selain memperhatikan aspek-aspek diatas juga mmeperhatikan beberapa aspek terutama dalam hal pengambilan keputusan strategis, Kasus yang diberikan dapat berupa kasus mengenai suatu permasalahan yang melibatkan system perusahaan atau policy sehingga kemampuan berfikir startegisnya akan lebih terlihat.
 Bagaimana melaksanakan FGD…??
Umumnya dalam FGD setiap kelompok terdiri dari 4 sampai 7 orang, namun hal ini bisa disesuaikan dengan kemampuan observasi dari pemandu. Dengan kemampuan yang expert, jumlah anggota kelompok masih bisa ditambah lagi. Setelah terbentuk kelompok-kelompok, pemandu memberikan penjelasan sekalilas kepada kelompok bahwa mereka harus mendiskusikan kasus yang akan diberikan kepadanya. Untuk efisiensi, pembatasan waktu kadang boleh diterapkan. Namun pada beberapa situasi, pembatasan waktu ini justru menghambat dinamika kelompok karena seringkali karena terdesak oleh waktu maka kelompok akan melakukan voting untuk mendapatkan penyelesaikan yang disepakati. Jadi, berapa waktu yang digunakan juga sangat fleksibel, tergantung dari kebutuhan tiap-tiap perusahaan. Setelah kelompok mendapatkan penyelesaian yang dirasa paling tepat, ada baiknya pemandu membahas dinamika kelompok tersebut seperti apa yang mereka dapatkan dari kasus seperti itu, atau apa yang dirasakan ketika harus bekerja dengan orang lain, dsb. Intinya adalah bagaimana membuat peserta mendapatkan insight atau wawasan baru dari kasus atau dinamika kelompok yang baru saja ia lewati. Dengan pengetahuan baru diharapkan peserta lebih paham bagaimana bekerja dan peran seperti apa yang harus dilakukan ketika harus bekerjasama. Pemahaman ini juga melatih peserta untuk lebih siap masuk ke dunia kerja.
Apa yang dinilai dalam FGD…??
FGD memang mengandalkan kemampuan observasi dan sensitivitas pemandu untuk menangkap pola pikir, pola perilaku dan kecenderungan personaliti peserta. Banyak aspek yang dapat diungkap dalam FGD ini, seperti kepercayaan diri, ketrampilan komunikasi, kematangan sosial emosional, potensi kerjasama, pengambilan keputusan, adaptasi, penyesuaian diri, dan kebutuhan-kebutuhannya. Apa yang didapatkan dalam FGD ini adalah gambaran awal dari kemampuan dan kecenderungan peserta, dan hasil ini tentu harus di kroscek dengan data yang lain seperti dengan hasil psikotes.

disadur dari http://sinergioptima.com/?p=69

Minggu, 20 Mei 2012

di malam yang indah aku terbawa kedalam
dimensi kehidupan
yang menghantarku kepada kebahagian akan pesona indah
terbawah dalam lamunan akan rindu sang kekasih

             mengetuk sang pemilik cinta untuk kecintaannya
             mengetuk sang kekasih untuk kekasihnya
             mengetuk pintu sang pemilih hati untuk hatinya

isinkan aku menjadi bagian dalam kehidupanmu
dalam kehidupan mu aku akan merajut makna
makna untuk menuju sang kekasih mu

solo 20/5/12